Sunday, October 12, 2008

Investasi Paling Aman Sesuai Al-Qur'an dan Sunnah (Lebih baik dari Bank)

Investasi Paling Aman Sesuai Al-Qur'an dan Sunnah

Selama ini kita menabung di bank untuk mengamankan uang kita agar tidak berkurang dan tidak hilang dicuri orang. Kita mendepositokan uang kita ke bank dengan tujuan untuk memperbanyak harta, memperoleh keuntungan.

Bank selama ini diyakini sebagai institusi yang paling aman untuk investasi dan sebagai tempat menyimpan uang. Tapi kenyataannya ?

Islam sebagai agama yang hak dan sempurna telah memberikan petunjuk terbaik untuk mengamankan harta dan memperbanyak harta, tapi sayang banyak dari kita tidak mengetahui dan kalaupun tahu banyak yang tidak meyakininya, padahal yang berjanji untuk mengamankan uang dan memberi kuntungan yang banyak tersebut adalah Allah Rob Semesta Alam yang Maha Kaya yang Menguasai Perbendaharaan Alam Semesta.

Kita lebih yakin dengan janji-janji yang dikeluarkan oleh bank yang dipimpin oleh manusia-manusia yg lemah, sedangkan janji - janji Allah hanya diakui sebatas konsep di forum-forum diskusi agama belum sampai tahap penerapan dikehidupan sehari-hari secara menyeluruh.

Solusi yang ditawarkan Islam adalah "Sedekah" (yaitu menafkahkan harta dijalan Allah), ya yakinlah bahwa sedekah akan :

1. Mengamankan harta kita (lebih aman dari menyimpan uang di bank), harta tidak akan berkurang sedikitpun karena sedekah,
2. Sedekah akan memperbanyak harta kita (ratusan kali lipat lebih lebih baik dari bunga deposito).

Kebenaran ini didukung oleh hadist Nabi SAW :

"Tiga hal yang aku bersumpah atas ketiganya;
1. Tidak berkurang harta karena shodaqoh,
2. Tidak teraniaya seorang hamba dengan aniaya yang ia sabar atasnya, melainkan Alalah Azza Wajalla menambahkan kemuliaan, dan
3. Tidak membuka seorang hamba pintu permintaan melainkan Allah membuka atasnya pintu kefakiran" (HR Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Allah SWT berfirman :

"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan." (Al-Baqarah: 245).

"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui." (Al-Baqarah: 261).

Sebaliknya, mereka yang merasa bahwa bunga bank lebih baik dan lebih melipatgandakan uang maka sesungguhnya mereka telah tertipu, mereka tidak menyadari bahwa harta mereka akan musnah cepat atau lambat.

"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa" (Al-Baqarah: 276).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian salah satunya berkata (berdo’a) : “Ya Allah, berilah pengganti bagi orang yang berinfak”, sedangkan yang lain berdo’a :”Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran” [Muttafaqun alaih]

Kisah Seorang Petani yang Sukses

Ini adalah kisah tentang seorang petani yang shalih yang dikisahkan dari sebuah hadits Abu Hurairah rodhiyallohu anhu dari nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:

"Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan (mendung), 'Siramilah kebun si fulan!' maka awan itu menepi (menjauh) lalu mengguyurkan airnya di tanah bebatuan hitam.

Ternyata ada saluran air dari saluran-saluran itu yang telah penuh dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) air itu. Ternyata ada seorang laki-laki yang berada di kebunnya sedang mengarahkan air dengan cangkulnya.

Kemudian dia bertanya, 'Wahai hamba Allah, siapakah nama anda?' dia menjawab, 'Fulan'.

Sebuah nama yang didengar dari awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, 'Mengapa anda menenyakan namaku?' dia menjawab, 'Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan Siramilah kebun si fulan! yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan dalam kebun ini?'

Dia menjawab, 'Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (ditanam kembali). HR. Muslim

Dalam riwayat lain disebutkan:

Dan aku jadikan sepertiganya untuk orang-orang miskin dan peminta-minta serta ibnu sabil (orang yang sedang dalam perjalanan).

Penutup


Berhati-hatilah dalam beramal, janganlah kita berlaku riya, ingin dipuji atau sekedar mengharapkan balasan dunia yang dijanjikan Allah kepada kita dari amal2 tersebut, beramalah karena iman kepada Allah, ikhlas karena Allah semata, karena nanti kita tidak mendapatkan balasan diakhirat.

"Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Huud: 15-16).

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir." (Al- Baqarah:264)

Semoga bermanfaat!

Thursday, June 26, 2008

Memberi Suap atau Tidak Makan !

Suap dalam mencari proyek atau mark up harga demi mendapatkan proyek adalah sebuah kondisi yang ’dianggap wajar’ di republik tercinta ini, sebuah kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Sungguh ini merupakan ujian yang berat bagi kita para pengusaha muslim, apakah kita yakin bahwa rezeki kita ditentukan oleh Allah Ta’ala atau ditentukan oleh pejabat tersebut ? Siapa yang lebih berkuasa ? Allah atau manusia ?

Jika kita yakin bahwa kalau kita tidak memberikan suap maka bagaimana bisa mendapatkan rezeki ? maka berarti kita yakin bahwa Allah Ta’ala bukan penentu rezeki bagi hambanya. Maka jika demikian, Allah akan membenarkan keyakinan kita, karena Allah beserta sangkaan hambanya!

Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” QS. Saba’:24

“Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” QS. Ali ‘Imran:37

Sayang kebanyakan dari kita menyetujui konsep pedagang yang selama ini sudah putus asa, mereka yang punya keyakinan “jangankan cari rezeki halal, yang haram saja sulit” atau “kalau tidak begini bagaimana bisa cari uang?”

Ini ujian kehidupan, bersabarlah! dengan sabar terhadap larangan Allah, maka insyaAllah akan diganti dengan rezeki yang halal yang berlimpah.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” QS. Ath Thalaaq:2-3

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhu , ia berkata : “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat yang memberi suap dan yang menerima suap”.[HR At-Tirmidzi, 1/250; Ibnu Majah, 2313 dan Hakim, 4/102-103; dan Ahmad 2/164,190. Syaikh Al-Albani berkata,”Shahih.” Lihat Irwa’ Ghalil 8/244]

Banyak yang sudah membuktikan, bahwa dengan menolak budaya suap dalam mencari proyek atau mark up harga, maka Allah akan membukakan jalan keluar serta rezeki yang jauh lebih baik dari nilai proyek2 tersebut (yang ada bumbu suap didalamnya). Memang diawalnya berat, tapi dengan kesabaran dan bersunguh-sungguh dalam berikhtiar (istiqomah) insyaAllah waktunya pasti datang.

Sekali lagi hindarilah suap atau markup harga tersebut, karena suap atau markup harga dalam mendapatkan proyek dapat diartikan bekerjasama dalam kemaksiatan dan pelanggaran.

“Artinya : Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya”. QS. Al-Ma’idah : 2

Ada banyak jalan keluar yang diberikan Islam untuk mendapatkan rezeki halal, bekerja bersungguh - sungguh, banyak berbuat baik kepada manusia, bersodaqoh, istighfar, silaturahmi, zakat, haji, merupakan pintu-pintu pembuka rezeki yang banyak… bukan dengan suap, markup harga, riba dan tipu muslihat.

Memang tidak dapat dipungkiri secara akal manusia yang jahil ini bahwa peluang untuk mendapatkan sebuah proyek akan jauh lebih besar jika kita menjalankan aksi suap tsb. Tapi ingat, kita berbisnis bukan untuk cari proyek tapi cari rezeki yang halal dan kebahagian dunia akhirat!!

Rezeki jangan dilihat dalam bentuk uang/harta semata, ketenangan batin, anak-anak yang soleh, istri yang solehah, kesehatan, dsb… adalah rezeki yang lebih berharga daripada uang yang melimpah. Jadi untuk apa harta melimpah tapi batin tersiksa, anak yang durhaka, mati bunuh diri, masuk neraka, dst… befikirlah wahai pengusaha muslim, jika Anda ingin dirahmati Allah Ta’ala dan ingin bahagia dunia akhirat.

Friday, June 20, 2008

Pilih Dunia Atau Akhirat?

Pilih Dunia Atau Akhirat?

“Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.”

(Surat Ali ‘Imraan / Keluarga Imran Ayat 152)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”

(Surat Huud / Nabi Hud -Alahis Salam Ayat 15-16).

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi),
maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.“

(Surat Al-Israa’ / Memperjalankan Di Malam Hari Ayat 18-19)

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat
akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.“

(Surat Asy-Syuuraa / Musyawarah Ayat 20)

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (yaitu suatu pemberian yang diberikan kepada perempuan yang telah diceraikan menurut kesanggupan suami)dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.
Dan jika kamu sekalian menghendaki (keredhaan) Allah dan RasulNya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.“

(Surat Al-Ahzaab / Golongan-golongan Yang Bersekutu Ayat 28-29)

Oleh : Ustadz Abdullah Hadrami

Sunday, June 15, 2008

Miskin dan Kaya

Miskin dan Kaya

Oleh Fery Ramadhansyah

Ada seorang pria sedang makan ayam panggang bersama isterinya. Di tengah menikmati makanan tersebut, seorang pengemis menghampiri mereka. Karena merasa terusik, dengan nada menghardik pria tadi mengusir si pengemis. Hari pun berganti, hingga satu ketika pria tersebut jatuh miskin. Dan ia pun menceraikan isterinya.

Setelah dicerai, lalu mantan isterinya menikah dengan pria lain. Saat menikmati ayam panggang di rumah bersama suaminya, tiba-tiba terdengar ketukan dari luar. Ada pengemis yang meminta-meminta. Lalu suaminya menyuruh agar memberinya ayam yang mereka makan. Isteri pun keluar, dan memberi ayam itu kepada pengemis. Ternyata pengemis itu adalah mantan suaminya. Ia kembali masuk rumah sambil menangis. Kemudian ia memberitahukan pada suaminya bahwa pengemis di luar adalah mantan suaminya. Diceritakannya bagaimana dulu mantan suaminya tersebut mengusir pengemis. Lalu suaminya berkata: apa yang kamu herankan, demi Allah pengemis yang dulu itu adalah aku sendiri.

Kisah di atas adalah salah satu contoh kehidupan. Roda kehidupan akan berputar seiring dengan bergantinya waktu. Hidup tak selamanya tetap karena ia akan berubah dari masa ke masa. Satu masa ia berada di atas dan di masa yang lain ia akan berada di bawah. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”QS:3:140

Oleh karenanya, saat keberhasilan berpihak kepada kita hendaknya tidak memandang rendah yang lain dan tidak pula mengejeknya. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan)”.QS:49:11

Tidaklah seseorang yang memiliki harta lebih kecuali itu amanah yang dititipkan Allah. “dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu” QS:24:33. sebab dalam harta kita ada hak yang harus diberikan kepada yang membutuhkan.

Maka beruntunglah orang yang menyadari siklus kehidupan ini dengan senantiasa mengingat Allah. Saat ia ditimpa musibah, tidak berkeluh kesah dan saat diberi nikmat ia tidak kikir. Karena ia yakin di balik kesukaran terdapat kemudahan. Allah swt berfirman: “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” QS. 94:5

Sumber : Era Muslim

Saturday, June 7, 2008

Hati yang Sempit dan Tidak Tenang

Untuk sukses dalam kehidupan, diperlukan pikiran yang jernih dan jiwa yang tenang. Berbagai kompleksitas usaha dan segala kesulitannya akan mudah diselesaikan dengan pikiran dan jiwa yang tenang. Bagaimana bisa membuat perencanaan bisnis dengan baik, memimpin dengan adil dan penuh kebijakan jika hati kita sesak dan sempit ?

Jika kita merasakan hidup ini sempit dan tidak tenang, selalu bingung dan penuh keraguan, ada baiknya kita introspeksi diri dan memperhatikan firman Allah Ta'ala berikut ini :

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". QS.Thaha 124

Tafsir ayat ini menurut Ibnu Kathir adalah : "Yakni sempit di dunia, sehingga tidak ada ketenangan dan kelapangan di dalam dadanya. Dadanya terasa sempit dan menyesakkan karena kesasatannya. Meskipun secara lahiriyah ia merasa senang, dapat berpakaian sekehandak hatinya, makan dan bertempat sesukanya, tetapi selama hatinya tidak tulus menerima keyakinan dan petunjuk, niscaya ia berada dalam kegoncangan, kebimbangan dan keraguan, dan ia akan terus dalam keraguan. Yang demikian itu merupakan bagian dari sempitnya kehidupan."

"Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman..." QS At-Taubah : 26

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" QS. Al-Fath :4

Sehingga solusi yang terbaik menurut Allah Ta'ala adalah dengan mengikuti petunjuk-Nya, jangan berpaling dari peringatan-Nya. Jadilah orang yang bertakwa sebaik mungkin dan semampu kita.

"...bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
QS. Al-Baqarah : 189

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku."
QS. Al-Fajr 27-30

Tuesday, May 20, 2008

Shodaqoh yang Paling Besar Pahalanya

Kasus seperti ini pasti sering menimpa kita,

Disaat kita sedang merintis usaha, uang yang didapat masih belum seberapa, berbagai keinginan timbul didalam pikiran kita, ingin beli ini ingin beli itu, semangat masih membara, kita masih ingin kaya, masih ingin mengumpulkan uang, tapi tiba-tiba datang seseorang meminta bantuan ke kita, duh... rasanya kok tidak tepat waktu, hati rasanya gregetan, kita sendiri masih sangat membutuhkan uang tersebut, apa tidak bisa nanti saja saat saya sudah kaya? kok baru dapat uang segini sudah diminta ?

Ternyata kondisi tersebut pernah disinggung oleh Rasulullah -Shallalaahu `Alaihi Wa `Ala Alihi Wa Sallam. Berikut riwayatnya :

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh radhiyallahu `anhu, ia berkata: Seseorang datang menemui Rasulullah -Shallalaahu `Alaihi Wa `Ala Alihi Wa Sallam dan bertanya, "Wahai Rasulullah, shodaqoh yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?" Beliau bersabda :

"Engkau bershodaqoh dalam keadaan sehat, amat membutuhkannya, khawatir miskin, dan berangan-angan menjadi orang kaya. Janganlah menunda-nunda (shodaqoh) sehingga jika ajal telah sampai ke kerongkongan engkau berkata, 'Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian.' Padahal memang harta itu untuk si fulan"
H.R. Bukhari, lafazh ini darinya dan Muslim.

Semoga berguna,
Wassalam

Monday, May 5, 2008

Ayat-Ayat Sukses (Sebuah Pengalaman Berharga untuk Pengusaha Muslim)

Pelajaran Berharga dari Fotografi

Saya gemar fotografi landscape, sangking seringnya memfoto saya diberi rezeki berupa kesempatan untuk berjumpa dengan tornado yang cukup besar dan berhasil memfotonya dengan baik (walaupun takut dan tegang ndak karuan).

Dengan bangga saya pamerkan foto tornado saya tersebut ke teman2, ada beberapa yang dengan spontan menjawab “kau beruntung sekali”, dalam hati saya 100% setuju dengan pernyataan tersebut, saya benar-benar beruntung, tapi karena melihat situasi saat itu juga hadir teman2 yang ‘rada pemalas’ maka saya menjawabnya dengan sedikit menyindir, saya jawab “ya saya benar-benar beruntung karena saya rajin kepantai untuk mengambil foto, seandainya saya rajin berpangku tangan dirumah mana mungkin saya bisa beruntung memfoto tornado tsb dengan hasil yang baik”

Maksud pernyataan saya tersebut adalah mungkin saja Anda punya alat fotografi canggih, namun karena jarangnya Anda keluar mengambil foto maka :
- Kesempatan Anda untuk menemukan momen2 istimewa menjadi lebih kecil daripada jika Anda sering keluar mengambil foto.
- Karena jarangnya praktek, maka saat ada kejadian istimewa tsb mungkin Anda begitu tegang sehingga tidak ada satupun foto yang bagus baik dari sisi teknis dan kualitas gambar.
- Karena kurangnya motivasi dan ambisi maka bisa jadi Anda lari saat kejadian tersebut berlangsung, bukannya mengambil kamera, mengatur setting dengan baik dan mengambil foto dengan tenang.

Nah contoh pengalaman diatas sama dengan yang kita alami sebagai pengusaha, penuh dengan faktor usaha, motivasi, pengalaman, ketegangan dan faktor keberuntungan.

Usaha yang Bertemu dengan Peluang

Sekitar 13 tahun yang lalu seorang teman berbagi ilmu dengan saya, bahwa di suatu buku ‘barat’ ditulis bahwa keberuntungan adalah “USAHA yang bertemu dengan PELUANG”, artinya timing dan momen-nya pas, ketemu di suatu titik, artinya jika tidak usaha maka pasti peluang tsb tidak akan ditemukan, tapi jika memang nasib tidak bagus maka sehebat apapun usahanya maka peluang tersebut tidak akan ketemu.

Nah dari perjalanan hidup kita sebagai pengusaha muslim dapat kita simpulkan bahwa berhasil tidaknya dan seberapa cepat kita bisa ketemu dengan peluang (setelah kita berusaha dengan sungguh-sungguh) adalah murni peran Yang Maha Kuasa Allah Ta’ala, yaitu apakah kita dimudahkan untuk bertemu dengan peluang tersebut atau tidak. Sehingga akhirnya dapat dinyatakan kita beruntung.

Meskipun harus diakui bahwa usaha (ikhtiar) kita pun tidak luput dari kekuasaan Allah Ta’ala, karena kalau kita diciptakan sebagai manusia idiot tentu saya tidak dapat menulis artikel ini dan Anda tentu tidak akan membacanya, atau jari2 saya dibuat kaku dan mata Anda dibuat rabun….

Orang Bodoh dan Orang Pintar

Lagi-lagi seorang teman menasehati saya (insyaAllah orangnya ada dimilis ini) dan beruntung saya punya teman yang senang memberi nasehat, bahwa dia pernah mendengar dari seorang pengusaha disuatu seminar bahwa “Orang bodoh dikalahkan oleh orang pintar, orang pintar dikalahkan oleh orang curang, orang curang dikalahkan oleh ….” setelah kutunggu-tunggu ternyata jawabannya adalah “… dikalahkan oleh orang yang beruntung”, karena ada saja jalan keluar untuk selamat dari kejahatan orang yang curang tsb.

Namun bagaimana caranya agar jadi orang beruntung ? pengusaha tersebut menjawab yaitu dengan berbuat baik kepada manusia maka nanti yang dilangit akan baik kepadamu.

Saya terus penasaran, karena jawaban tersebut rasanya pernah saya dengar dalam Al-Quran atau Hadist, sehingga segera saya membuka program Al-Quran di komputer, mencari kata ‘beruntung’ ternyata keluar banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan cara agar kita beruntung, atau cari kata ‘rugi’, dst… (Silahkan Anda lakukan dan temukan “ayat2 sukses” tersebut).

Mereka itulah yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS. 2:16)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 3:130)

Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS. 7:69)

Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 7:157)

Sesungguhnya tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. (QS. 10:17)

Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS. 12:23)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (QS. 23:1)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (QS. 23:117)

Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. 24:31)

Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. 28:82)

Dst….

Demikian juga dengan Hadist-hadist yang terkait dengan masalah ini ternyata banyak sekali :

“Orang yang pengasih akan di kasihi Dzat yang Maha Pengasih, kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu.” HR. Tirmidzi

“Allah ta’ala menolong seorang hamba selagi hamba tersebut menolong sesamanya.” HR. Muslim

“Barang siapa menolong saudaranya yang membutuhkan maka Allah ta’ala akan menolongnya.” HR. Muslim

“Barang siapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” HR. Muslim

“Barang siapa yang tidak menaruh belas kasihan terhadap sesamanya, maka Allah ta’ala tidak akan mengasihinya.” HR. Muslim

“Barang siapa yang mampu memberikan kemanfaatan kepada saudaranya hendaklah ia lakukan.” HR. Muslim

“Bukankah kalian ditolong dan diberi rizki lantaran orang-orang lemah di antara kalian?” HR. Bukhari

“Barangsiapa yang suka rezkinya akan diluaskan dan diakhirkan ajalnya maka hendaklah menyambung tali persaudaraan.” HR. Al-Bukhari dan Muslim

“Carilah (keridhaan)ku melalui orang-orang lemah di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rizki dan ditolong dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.” Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dll.

Cerita Pengemis

Suatu hari saat saya masih bermukim di bandung sekitar tahun 1995, ketika itu mobil yang saya kemudikan sedang antri di trafic light dimana mobil saya berada diurutan ke lima dibelakang 4 mobil mewah, seorang pengemis bergerak dari satu mobil ke mobil yang lainnya menjulurkan tangannya, tidak satupun pengemudi mobil-mobil tersebut memberikan uang, saya tidak tega melihatnya dan segera menyiapkan uang untuk sang pengemis, tapi apa yang terjadi adalah setelah melewati mobil ke 4 dia malah kembali ke trafic light dan mengabaikan mobil saya (yang waktu itu masih daihatsu espass).

Saya merenung didalam hati, mungkin karena mobil saya espass, maka ia menganggap percuma saja menuju ketempat saya, sedangkan pengemudi 4 mobil mewah yang ada didepan saja tidak memberi apa-apa, apalagi pengemudi espass (padahal boleh jadi pengemudi 4 mobil mewah tersebut adalah supir, sedangkan pengemudi espass ini adalah pengusaha).

Lantas yang salah siapa disini jika dia tidak mendapatkan uang ? apakah Allah Ta’ala memang tidak mau memberi rezeki kepada dia atau usaha dia yang kurang ? tinggal satu mobil lagi belum dicoba tapi dia sudah berputus asa.

Kejadian tersebut menjadi pelajaran yang sangat berharga buat saya saat itu hingga sekarang ini, bahwa sebelum kita menyatakan ini sudah takdir Tuhan, maka alangkah baiknya jika kita benar-benar berusaha semaksimal mungkin yang terbaik yang bisa kita lakukan, jangan sampai ada kesempatan/peluang yang terlewatkan.

Kesimpulan

Sebagai pengusaha muslim kita dituntut ‘berusaha’ sungguh-sungguh, terus belajar dan cerdas, namun apakah mungkin rezeki bisa kita peroleh jika Allah Ta’ala murka (tidak ridho) terhadap kita ? sedangkan Ia adalah pemilik perbendaharaan alam semesta ini ? tentulah sangat naif jika kita bekerja banting tulang ingin memperoleh rezeki dibumi milikNya menggunakan tubuh yang diberikanNya namun dengan cara yang dimurkaiNya, selalu bermaksiat kepadaNya dan tidak perduli kepada hamba-hambaNya yang lemah, apakah mungkin ? ataukah sebaliknya justru rezeki yang diperoleh justru melimpah tapi tidak berkah ? malah menjadi musibah ? istri selingkuh, anak durhaka, dll.

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkanNya dan meninggalkan apa yang dilarangNya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yg tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.” QS. Ath-Thalaq: 2-3 (Tafsir Ibnu Katsir)

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepadaKu, niscaya Aku penuhi (hatimu yg ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak niscaya Aku penuhi tanganmu dgn kesibukan & tidak Aku penuhi kebutuhanmu”.
HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dll.

Fadil Basymeleh
PT Zahir Internasional

www.pengusahamuslim.com